Menjenguk Syaikhain di Gampong Leu Geu Aceh Besar

Bermula dari sebuah tautan yang dishare Tgk Muhammad Siddiq di group Majlis pagi ini, ingatan saya kembali ke diskusi beberapa hari yang lalu dengan beberapa orang senior, tentang dua syaikh besar di Lampeune’en, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.

Link video youtube berisi rekaman ziarah Tgk. Habibie Wali, salah satu ulama muda Aceh, keturunan Syekh Abuya Muda Wali, pendiri pondok pesantren Darussalam Aceh Selatan. Di video tersebut, beliau meninjau lokasi keadaan makam dan kuburan di sekitar makam Syekh Abbas Kutakarang dan Syekh Abdullah Kan’an. Berikut linknya.

Menurut Tgk Habibie, kondisi makam di luar dua bangunan utama sangatlah memprihatinkan, tidak terawat, sebagaimana seharusnya pemakaman para wali, ulama, dan syuhada. Bahkan, kuburan Tgk Chik Kutakarang lebih mengesankan seperti rumah tua yang telah lama ditinggalkan. Agak kontras dengan kondisi bangunan Makam Tgk Chik Kan’an yang tampaknya lebih terawat dan sering dikunjungi peziarah.

Tidak lama kemudian, sebuah notifikasi pesan muncul di HP saya, rupanya istri saya ketinggalan dompet yang berisi kunci untuk membuka lemari arsip di sekolahnya di Kecamatan Simpang Tiga Kab. Aceh Besar. Besar harapan istri, supaya saya bisa mengantar dompet tersebut ke sekolahnya.

Segera saja saya meluncur ke arah sekolah istri saya yang berjarak lebih kurang 12 km dari kantor saya, bukan sekedar untuk mengantarkan dompet, tapi juga untuk menyempatkan berziarah dan membaca surat Al-Fatihah di makam dua Syekh tadi, yang lokasinya tidak jauh dari jalur pergi-pulang saya ke tempat istri saya mengajar.

Singkat cerita, dari Ibu Kota Kecamatan Simpang Tiga, saya meluncur ke arah Kecamatan Darul Imarah. Tidak jauh dari lokasi MAN Cot Gue, MIN Cot Gue dan MTsN Cot Gue (sekarang nama madrasah tersebut menggunakan nomor yag tidak saya ingat), ada pertigaan, ke kanan menuju ke Kota Banda Aceh, dan ke kiri menuju ke Mata Ie atau Ja Pakeh.

Saya mengambil jalan ke kiri, lebih kurang 200 meter, ada gerbang Gampong Leu Geu. Lebih kurang 1 km dari gerbang tersebut, setelah melintasi jalan berkelok-kelok, di persimpangan ke tiga, di sebelah kiri jalan kita akan menemukan papan informasi lokasi Komplek Makam Syekh Abdullah Kan’an.

Di komplek ini, ada dua bangunan makam yang mencolok, yang pertama kita jumpai adalah Makam Tgk Chik Kuta Karang, yang bangunannya sangat sederhana dan kurang terawat. Di sekitarnya tersebar beberapa makam yang batu nisannya dibungkus kain putih yang sudah pudar. Menurut penjaga makam, saya tidak ingat lagi namanya, yang saya jumpai ketika berkunjung pada kesempatan sebelumnya, Tgk Kutakarang ini masih keturunan Tgk Kan’an, dan yang disekitarnya adalah makam para pengikut dan murid beliau.

Menurut catatan sejarawan, Tgk. Abbas Kutakarang adalah seorang ulama dan pejuang, sekaligus penulis produktif. Beliau pernah belajar di Makkah bersamaan dengan Snock Hurgronje. Beliau kembali ke Aceh lebih awal untuk mengingatkan sultan dan masyarakat Aceh tentang fitnah yang mungkin dibawa oleh Snock alias Tgk Puteh ke Aceh.

Tgk Chik Kutakarang dikenal luas sebagai ahli falak, bahkan namanya diabadikan sebagai nama Observatorium Hilal di tepi Pantai Lhoknga oleh Kementerian Agama, sekitar 25 km dari lokasi makamnya saat ini. Beberapa kitab yang beliau wariskan adalah : (1) Sirajul Zalam fi Ma’rifati Sa’adi Wal Nahas tentang ilmu falak (2) Kitabur Rahmah tentang perobatan (3) Tazkiratul Rakidin  dan Mau’izhatul Ikhwan tentang strategi militer dalam rangka perang melawan penjajah kolonial, dan yang palong fenomenal (5) Taj al-Muluk yaitu sejenis kitab mujarobat yang berisi trik dan amalan praktis bagi masyarakat berdasarkan peredaran bulan.

Tapi sepertinya, memang masyarakat sekitar tidak banyak yang mengenal beliau ini, kecuali sebuah masjid yang beliau bangun di Gampong Kutakarang, 2 km dari lokasi makamnya saat ini.

Agak ke dalam, kita akan menemukan sebuah bangunan yang lengkap dengan pagar, sumur, halaman yang telah dicor dengan semen, dan bangunan semi panggung yang tampak terawat dan dicat. Itulah bangunan kuburan Syekh Abdullah Kan’an. Di dalam bangunan, selain kuburan beliau, juga terdapat beberapa kuburan lainnya yang merupakan karib kerabat dan keluarganya, menurut keterangan penjaga makam. Di luar bangunan memang terdapat banyak juga kuburan lain, yaitu para murid dan pengikut Syekh Abdullah Kan’an.

Menurut catatan, Syekh Abdullah Kan’an sudah datang ke aceh di Abad VI Hijriah, jauh sebelum Kesultanan Aceh berdiri. Beliau diyakini sebagai ahli pertanian dan yang pertama membawa bibit lada ke Aceh. Syekh adalah ulama dan ahli agama yang lahir di Palestina atau Kan’an. Maka wilayah tersebut juga dikenal sebagai Lampeuneu’en atau wilayah Kan’an, mengikut daerah asal beliau.

Sama halnya dengan Tgk Chik Di Bitai yang beberapa waktu lalu diperingati Haulnya, juga berasal dari Palestina. Sepertinya memang ada hubungan batin khusus antara Aceh dan Palestina di masa lalu, wajar saja orang Aceh hari ini sangat antusias jika ada kegiatan donasi untuk membantu saudara-saudaranya di Palestina.

Pengamatan saya, di kompleks pemakaman tersebut sekarang ada pondok pesantren yang bernama Bustanul Fata. Merujuk namanya, kemungkinan besar diasuh oleh alumni Ruhul Fata Seulimum. Alangkah eloknya, jika para santri di dayah ini, disamping belajar ilmu agama juga ikut serta menjaga dan merawat makam-makam yang ada di sini. Boleh jadi, kita ini hanya menumpang di tanah wakaf para ahli kubur ini….

Ila hadratin Nabi wa shahibal qubur, Alfatihah wa ayatutl kursi….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.