Haul Tgk Chik Di Bitai ke 494 Berlangsung Sederhana dan Khidmat

Rabu, (28/8), sejumlah kelompok komunitas antara lain IKAMAT, PUKAT, PPI Turki, Darud Donya menyelenggarakan Haul Tgk Chik Di Bitai, bertempat di komplek pemakaman Tgk Chik Di Bitai, Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

Menurut Muammar Farisi, Koordinator, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Masyarakat Gampong Bitai, dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banda Aceh. Tenda, Sound System, dan Snack merupakan sumbangan Pemko Kota Banda Aceh, terang Muammar.

Kegiatan yang berlangsung sederhana sejak pukul 09.00 WIB turut dihadiri oleh masyarakat sekitar, sejumlah tokoh kebudayaan, anggota dewan perwakilan rakyat Kota Banda Aceh, perwakilan Gubernur Aceh, dan sejumlah santri dan santriwati.

Setelah pembacaan surat-surat Sultan Aceh dan Sultan Turki, dilanjutkan dengan tausyiah sejarah yang disampaikan oleh Ust. Amer Hamzah, salah seorang pemerhati sejarah Aceh dan Kebudayaan Islam. Amir Hamzah menjelaskan bahwa Tgk. Chik Di Bitai adalah salah seorang Jendral Turki yang memimpin akademi militer Kesultanan Aceh. Nama beliau adalah Mustafa Ghazi bin Muthalib Ghazi, dan diberi gelar Selahuddin, karena jasa-jasanya membela Agama.

Kata Bitai, menurut Amir Hamzah, berasal dari Baitun atau Baitul Maqdis, karena para perwira yang datang dan tinggal di Bitai sebelumnya adalah prajurit yang berpengalaman bertugas menjaga Baitul Maqdis di Palestina. Menurut beliau, para prajurit dan perwira yang menjadi instruktur militer ketika itu bukan saja orang Turki, tapi juga dari seluruh dunia Islam yang tergabung sebagai prajurit Khilafah Usmaniah.

Hal paling penting yang menjadi catatan dalam peringatan Haul ini, menurut Amir Hamzah, setidaknya ada dua; yaitu yang pertama mendoakan Tgk Chik Di Bitai dan para sahabatnya, dan yang kedua bagaimana orang Aceh perlu banyak belajar dari Turki. Dari dulu, Turki lebih unggul dari kita di Aceh. Di masa khilafah dan kesultanan mereka membantu kita, setelah tsunami hingga sekarang mereka juga masih membantu kita.

Setelah tausiah, doa dipimpim oleh Ust Zamhuri, Imam Masjid Raya, juga Pimpinan Tariqat Nagsabandi Haqqani, yang hadir pada kesempatan tersebut. Setelah doa, dilanjutkan dengan ziarah singkat peserta Haul, dan diakhiri dengan shalat dhuhur bersama di masjid di dalam komplek makam.

Muammar Farisi menginformasikan bahwa ini merupakan kegiatan haul yang kedua. Haul pertama diselenggarakan pada tahun 2016. Pihaknya berharap tahun depan kegiatan serupa bisa diselenggarakan dengan lebih baik dan lebih besar, serta melibatkan lebih banyak pihak.

Menurut Muammar Farisi, dulunya lokasi ini adalah akademi militer yang telah menghasilkan pejuang tangguh seperti Kemala Hayati. Tepat di sebelah utara komplek adalah sungai Aceh, yang di sisi militer merupakan salah satu jalur distribusi dan mobilisasi yang sangat strategis, selain juga sebagai media latihan bagi calon prajurit dan perwira di masa itu.

Mungkin, geudeu-geudeu dan silat aceh adalah salah satu warisan masa lalu yang berakar di tempat ini. Wallahu a’lam….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.