Menziarahi Selahaddin, Jenderal Turki di Aceh

Alhamdulillah, setelah peringatan 480 Tahun hubungan Diplomatik Aceh dan Turki beberapa waktu lalu di komplek Makam Baba Daud Rumi, Gampong Mulia Kecamatan Kuta Alam, kali ini redaksi ZiarahKubraAceh.com menerima informasi terkait pelaksanaan Haul ke 494 Tengku Chik Dibitai, di Gampong Bitai Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh.

Sepertinya ada perbedaan penanggalan yang menjadi rujukan dari panitia penyelenggara kedua kegiatan tersebut, namun yang penting, kegiatan ini patut diapresiasi dan mendapatkan dukungan dari semua pihak, khususnya para santri, peminat sejarah, masyarakat umum maupun pemerintah.

Kegiatan Haul Tgk Chik Dibitai, yang memiliki gelar Selahaddin (Shalahuddin), kali ini diprakarsai oleh sejumlah komunitas, antara lain Ikatan Masyarakat Aceh Turki (IKAMAT), Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki, dan Aceh Net. Berdasarkan banner online yang beredar di status dan group WA, kegiatan ini akan berlangsung pada rabu, 28 Agustus 2019, pukul 08.30 WIB sd. Selesai.

Adapun rangkaian kegiatan haul kali direncanakan terdiri dari Doa Bersama untuk para syuhada, Pameran Foto, Koleksi Manuskrip Aceh dan Turki, Taushiah Sejarah, Pembacaan Surat Sultan Aceh dan Turki, dan Testimoni dari warga Aceh yang belajar di Turki.

Pukul 11.30 WIB, selasa (27/8), setelah menyelesaikan beberapa tugas di Kantor, saya dan Saudara Alfin bergerak ke Gampong Bitai Kecamatan Jaya Baru, ke lokasi Komplek Pemakaman Tgk Dibitai dan para perwira serta prajurit Turki Usmani yang diperbantukan ke Kerajaan Aceh 400 tahun silam.

Dengan mengandalkan google map, kami mengambil jalan dari arah Kapal Apung, Gampong Punge Blang Cut, menuju ke arah selatan. Kira-kira 2 (dua) kilometer kami menjumpai Gerbang Gampong Bitai, namun masih agak jauh untuk sampai ke tujuan. Mengikuti jalan beraspal yang agak sempit jika dilalui dua mobil secara beriringan, kami masih meraba-raba letak lokasi makam, terus terang belum pernah ziarah ke lokasi ini sebelumnya.

Setelah melewati jembatan, kami mengambil jalan ke kanan, sesuai petunjuk arah Pabrik Tahu di pinggir jalan. Sekira 100 meter, di sebelah kiri jalan ada komplek pemakaman tua yang dikelilingi pagar beton berwarna hijau, tidak ada papan informasi dan keterangan apapun di situ. Belakangan kami mendapat informasi bahwa itu adalah komplek pekuburan masyarakat Gampong Bitai, dan di dalamnya ada makam tua dari para ulama yang belum kami peroleh informasinya.

Di pertigaan berikutnya, saat tanda panah Pabrik Tahu menunjuk arah kanan, google map mengarahkan kami ke kiri. Lalu kami sampai ke Kantor Geuchik Gampong Bitai ketika sinyal GPS menghilang dari perangkat selular kami. Namun, lokasi makam ternyata sudah tidak jauh lagi, lebih kurang 100 meter dari kantor Geuchik tersebut.

Komplek pemakaman ini tertata rapi dengan gerbang berwarna hitam, bertuliskan bahasa Turki dan Bahasa Indonesia. Tampak seseorang sedang bekerja memotong rumput di depan Pintu Gerbang. Tak jauh dari gerbang, di sebelah barat, berdiri megah sebuah masjid, yang sepertinya masih bagian dari komplek pemakaman.

Kami memperkenalkan diri, dan menanyakan perihal rencana kegiatan yang akan dilaksanakan di tempat tersebut. Ternyata yang sedang bekerja tersebut adalah Pak Zulfan, Khadam Makam, yang memang sedang bersih-bersih untuk acara Haul.

Menurut Pak Zulfan, panitia baru saja bubar setelah bersih-bersih, untuk mengangkut berbagai perlengkapan yang akan dipasang di lokasi acara. Kami diajak memasuki komplek makam, diikuti oleh seorang anak yang rupanya keponakan Pak Zulfan yang baru pulang dari taman kanak-kanak di dekat komplek makam. Setelah melewati gerbang, ada prasasti dalam dua bahasa, juga ada tugu peringatan disebelah selatan, juga dengan dua bahasa.

Ada sebuah bangunan besar dan kokoh di depan kami, beratap dan memiliki beberapa anak tangga yang semula saya kira adalah makam Tgk Chik Dibitai. Menurut Pak Zulfan, itu adalah bangunan bekas benteng, bukan makam Tgk Chik. Di dalam bangunan bekas benteng memang ada beberapa kuburan, yang menurutnya kuburan orang alim yang usianya jauh lebih muda dari kuburan Tgk. Chik.

Tgk Chik Dibitai, sesuai wasiatnya, dimakamkan disebelah barat benteng, diatas tanah yang membentuk gundukan dan lebih tinggi dari area sekitar. Makamnya sederhana saja, dihiasi dua batu nisan yang khas, dan berbeda dari nisan-naisan lainnya yang ada di sana.

Kata Pak Zulfan, sejak dipugar oleh Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Turki pada Tahun 2006, makam ini tetap dibiarkan sederhana, karena memang wasiatnya seperti itu.

Tidak lama kemudian, datang Muhammad Farisi, salah seorang koordinator kegiatan yang mengira kami adalah perwakilan Dinas Pariwisata yang melakukan inspeksi. Menurutnya, kegiatan ini juga turut dibantu oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banda Aceh.

Terakhir kali, kegiatan Haul Tgk Chik Dibitai, , dilaksanakan tahun 2016 silam, terang Muhammad Farisi, salah seorang pegiat dan pemerhati sejarah Aceh ini.

Muhammad Farisi merasa prihatin, karena banyak situs dan peninggalan sejarah di Aceh tidak terawat sebagaimana mestinya. Bahkan, masyarakat Aceh hari ini justru baru mengetahui ada situs sejarah di tempat tertentu setelah dikunjungi oleh wisatawan dan peneliti dari luar negeri, lanjut Farisi.

Selain makam dan masjid, ternyata di komplek ini juga ada museum kecil dimana tersimpan beberapa peninggalan dan artefak yang mewakili sejarah kerjasama Kerajaan Aceh dan Kesultanan Turki Usmani di masa yang lalu.

Namun, sebelum menuju museum, saya diingatkan bahwa Saudara Alfin harus kembali ke Kantor karena ada keperluan penting, maka kami segera mengakiri cerita di bawah pohon Kelayu yang juga tumbuh di komplek makam ini, sama seperti di makam Baba Rumi dan Komplek makam Tgk Dianjong.

Kami segera menuju makam, menghadiahkan Alfatihah, ayat kursi dan surat al-ikhlas kepada Selahaddin, Jenderal Turki yang mengingtkan kita pada sosok Pembebas Baitul Maqdis seribu tahun silam.

Kami kembali, dengan niat berkunjung kembali, dan mengambil banyak pelajaran dari masa lalu para prajurit dan kesatria, untuk masa depan yang lebih berkah dan bermanfaat, amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.