Ziarah Makam Baba Daud Rumi, Disuguhi Kelapa dan Boh Kelayu

Sehubungan rencana Peringatan 480 Tahun Hubungan Aceh dan Turki, Tim Redaksi Ziarah Kubra Aceh, jumat (16/8) pagi melakukan kunjungan dan ziarah singkat ke lokasi Makam Baba Daud Rumi, di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Sekira pukul 10.00 WIB, saya dan sdr Alfin menuju ke lokasi makam. Di Simpang 5 Kota Banda Aceh, kita memilih jalur ke utara, yaitu jalan yang sama dengan tempat favorit pecinta kuliner Mie Razali. lebih kurang 1 km, di perempatan jalan yang ada traficligt, kita jalan lurus hingga berjumpa pertigaan di samping sebuah bangunan masjid. Kita mengambil jalan ke kiri ke arah barat.

Lebih kurang 500 meter, kita menjumpai Gerbang Gapura Gampong Mulia di sebelah kanan, kita ambil jalan tersebut ke utara. Sekira 300 meter, lebih kurang 40 meter sebelum Masjid, ada Gapura lagi di sebelah kanan jalan. Kita memasuki jalan tersebut, di ujung jalan ada komplek pemakaman keluarga besar Baba Daud Rumi. Saya tidak ingat persis nama-nama jalannya, tapi bagi yang berniat berziarah, dapat menggunakan data google map berikut : MAP

Di komplek pemakaman tersebut, terdapat satu bangunan mushalla, yang sebelum tsunami merupakan balai pengajian bagi anak-anak sekitar, kemudian dibangun kembali dengan bantuan berbagai pihak dalam bentuk mushalla, lengkap dengan fasilitas MCK.

Ada satu sumur besar di depan mushalla, menurut Cut Wir, penjaga makam sekaligus keluarga dari Baba Rumi yang masih hidup dan menetap di sekitar makam, ketika gempa besar melanda Aceh 2004 silam, air sumur meluap dan menyembur sekira 3 meter ke atas. Kala itu tidak ada yang sadar bahwa air bah besar akan menyusul. Sebagiab besar anggota keluarga Cut Wir, termasuk ayahnya, meninggal dalam peristiwa tsunami. Mayat ayahnya baru ditemukan 6 bulan kemudian di muara sungai aceh, dekat dengan komplek pemakaman Syiah Kuala.

Di sebelah barat Mushalla, terletak bangunan makam Baba Daud Rumi, diberi pagar besi, dan di depannya terdapat monumen prasasti yang memuat informasi tentang Shahibul Makam, mirip dengan prasasti di Komplek Makam Tgk Diajong Peulanggahan. Selain itu juga ada papan Informasi. Halaman depan telah ditata dengan tapak gajah, terdapat beberapa pokok kelapa kuning yang berbuah lebat di pinggir pagar luar.

Memasuki area makam Baba Daud Rumi, ada bangunan lantai terbuka yang lebih tinggi dari tanah sekelilingnya, tanpa atap seluas lebih kurang 3 x 6 meter. Mungkin dimaksudkan bagi tempat duduk para peziarah.

Makam Baba Daud Rumi biasa saja, memang demikian wasiat beliau, menurut keterangan Cut Wir. Ada dua batu nisan besar yang telah diberi penutup dan kelambu kain putih. Di atasnya diberi atap. Di sebelah timur makam beliau, terdapat beberapa makam dan batu nisan yang lebih kecil, yaitu keluarga dekat beliau.

Saat pertama kali berziarah ke makam ini, lebih kurang setahun yang lalu, di depan makam ada tumbuh pohon besar yang daunnya menaungi makam. Ketika itu, ada dua orang santri yang sedang membaca Kitab Masailal Muhtadi di samping makam. Kata mereka, Shahibul makam adalah penulis dari kitab tersebut atas petunjuk gurunya, Syiah Kuala.

Saat ini, pohon tersebut telah ditebang bersamaan dengan renovasi bangunan makam, terang Cut Wir.

Setelah membaca salam dan doa singkat di samping makam Baba Daud Rumi, kami duduk di sebelah selatan mushalla, melanjutkan percakapan dengan Cut Wir, yang kemudian disusul oleh salah seorang anggota masyarakat sekitar makam, Ampon Fahmi.

Di sebelah selatan mushalla dan bangunan makam, terdapat banyak kuburan yang menurut Cut Wir adalah anggota keluarganya. Diantaranya adalah salah seorang kakek Cut Wir, Tgk Andib, yang pernah menjadi imam dan tokoh agama di Gampong Mulia dan sekitarnya.

Sambil berbincang tentang kondisi makam dan rencana persiapan kegiatan Komunitas Masyarakat Aceh – Turki, kami disuguhi buah kelayu dan kelapa gading muda yang tumbuh di area pemakaman.

Cut Wir menambahkan, bahwa selama ini yang banyak berziarah adalah para santri dan alim ulama, baik siang hari maupun malam hari. Sementara masyarakat sekitar, khususnya masyarakat yang baru tinggal setelah tsunami memang tidak banyak mengetahui tentang perihal Baba Daud Rumi.

Padahal, dulunya komplek pemakaman ini adalah sebuah Pondok Pesantren Besar yang dipimpin oleh Syiah Kuala dan mendidik banyak ulama dari semua daerah di Nusantara. Baru menjelang wafatnya, Syiah Kuala meneruskan kepemimpinan Pondok kepada Baba Daud Rumi, murid utmanaya. Sementara Syiah Kuala menyepi dan beruzlah ke pinggir kuala sungai Aceh, di komplek makamnya saat ini, terang Cut Wir.

Selain menulis Kitab Masailul Muhtadi, Baba Daud juga dipercaya gurunya Syiah Kuala untuk menyempurnakan dan menyelesaikan Tafsir Quran pertama dalam bahasa melayu, Tarjuman al-Mustafid.

Kita akui, banyak hal yang belum diketahui tentang Baba Daud dan Karya-karyanya. Namun satu hal yang pasti, kita bisa tetap memelihara hubungan batin dengan beliau dengan melazimkan ziarah, mengirimkan doa, dan ikut serta menghidupkan kegiatan belajar mengajar agama sebagaimana beliau dulu.

Cut Wir, selaku penjaga, keluarga dan anggota masyarakat, berharap balai pengajian yang kini menjadi mushalla itu dapat dihidupkan dengan beragam aktifitas belajar mengajar agama. Dirinya merasa tidak mampu dan siap mendukung tengku, santri, dan alim ulama yang akan melaksanakannya di tempat tersebut.

Karena jam sudah mendekati waktu pelaksanaan shalat jumat, maka saya dan sdr. Alfin mohon pamit, dengan janji akan kembali berziarah ke tempat ini dilain kesempatan.

Semoga ilmu, berkah, dan sirr dari Baba Daud Rumi, para guru dan muridnya, mengalir dan menjadi berkah bagi kita semua.

Allahumma la tahrimna ajrahu, wala takhtimna bakdahu, wagfirlana wa lahu, wa liikhwaninal lazina amanu…… amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.