Momentum Kemerdekaan dan Perdamaian bagi Masyarakat Aceh

Bulan Agustus memang memiliki makna penting bagi masyarakat Indonesia, yaitu bulan proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, 74 tahun silam.

Kemerdekaan ini tentu tidak gratis, karena diperoleh melalui perjuangan yang sangat melelahkan, baik jiwa dan raga, khususnya dari para pahlawan bangsa. Kerenanya, baik lembaga negara maupun masyarakat, melakukan ziarah ke makam pahlawan, guna mengenang jasa para pahlawan, sekaligus mendoakan kebaikan bagi mereka, dan mensyukuri nikmat kemerdekaan dari penjajahan.

Bagi masyarakat aceh, momentum Agustusan, sejak Tahun 2005, menjadi lebih dari sekedar peringatan kemerdekaan, tapi juga momentum merayakan perdamaian dari rangkaian konflik berkepanjangan yang menguras emosi tidak hanya masyarakat Aceh, tapi semua elemen bangsa yang memiliki hubungan dengan Aceh.

Penandatanganan MoU antara perwakilan Gerakan Aceh Merdeka dan perwakilan Pemerintah RI, di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005, 14 Tahun silam, telah memberikan semangat dan ruang baru bagi seleuruh masyarakat aceh untuk beraktifitas dan menghirup udara perdamaian.

Kembali maraknya perekonomian dan lembaga pendidikan di Aceh menjadi bukti bahwa kita lebih membutuhkan perdamaian dari sekedar nama besar. Konflik berkepanjangan telah menghancurkan banyak hal di Aceh, mulai dari situs sejarah, lembaga pendidikan, tradisi dan budaya masyarakat, serta banyak lainnya, baik fisik maupun nonfisik yang “hilang” akibat konflik.

Perdamaian adalah kemerdekaan rohani, inilah landasan sesungguhnya dalam menjalani kehidupan di dunia, dan tentunya untuk memperoleh keberuntungan di Akhirat.

Sudah selayaknya bagi masyarakat Aceh, dari elemen manapun, menjadikan momentum ini sebagai pengingat diri sendiri akan kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, juga rekan-rekan dan kawan kita yang gugur dalam perjalanan waktu, semoga saja arwah mereka tenang di alam barzakh, dan memperoleh rahmat dari Allah SWT. Mereka semua adalah pahlawan perdamaian, baik dikenal maupun tidak.

Kedepannya, masyarakat Aceh khususnya para elit politik, harus lebih arif dalam memandang sejarahnya di dunia ini. Sejarah memang penting, kebanggaan akan budaya dan tradisi juga penting. Tapi lebih penting lagi menjaga kehidupan dan hukum-hukum Allah di muka bumi ini, karena sejarah kita tidak berhenti ketika mati, tapi masih akan berlanjut di mahkamah Allah SWT, apakah kita akan berakhir di neraka, atau menjadi orang-orang yang beruntung di surga, bersama Nabi Muhammad SAW.

Sebagai masyarakat yang beragama dan religius, kita tidak boleh mudah terprovokasi oleh semboyan-semboyan semu yang didengungkan oleh Kaum Materialis dan Anti Agama. Bagi mereka, dunia ini memang segalanya, karena di sini mereka lahir, mereka hidup dan mereka mati.

Tapi kita, hanya singgah sementara saja di dunia ini, untuk kembali ke hadirat Ilahi. Sebagai masyarakat awam, saya setuju sekali dengan spanduk yang terpampang di hampir semua instansi aparat keamanan, baik polisi maupun TNI, “Aceh Aman, Ibadah Nyaman.”

Allahumma irhamna fiddunya wa ukhra.

Sumber Foto : Aceh Tribun News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.